image (13)

AMBON,- TrendMaluku.com – Kapolda Maluku Irjen Pol. Suwondo Nainggolan, S.I.K., M.H., menegaskan pentingnya dialog, pendekatan humanis, dan kemitraan dengan tokoh agama sebagai langkah memperkuat keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Maluku.

Penegasan itu disampaikan saat Kapolda melaksanakan kegiatan Minggu Kasih bersama jemaat Gereja Maranatha, Kota Ambon, pada Minggu, (18/10/2026).

Ibadah Minggu Kasih tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat komunikasi Polri dengan masyarakat sekaligus menjaga toleransi, kerukunan, dan persaudaraan di tengah keberagaman.

Kapolda hadir bersama istri, didampingi Dirpolairud Polda Maluku, Kabidkum Polda Maluku, Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, serta sejumlah personel Polda Maluku. Rombongan disambut Pdt. Yanes Titaley, M.Si., bersama majelis jemaat dan keluarga besar Gereja Maranatha.

Dalam sambutannya, Suwondo mengapresiasi sambutan hangat jemaat. Ia mengatakan, Minggu Kasih bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi kesempatan bagi kepolisian untuk mendengarkan aspirasi masyarakat, memahami karakteristik wilayah, dan membangun komunikasi terbuka dengan komunitas keagamaan.

“Saya hadir bukan semata-mata untuk menjalankan tugas sebagai Kepala Kepolisian Daerah, tetapi juga untuk menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Maluku. Saya ingin mengenal masyarakatnya, memahami karakteristik wilayahnya, mendengarkan aspirasi masyarakat, serta bersama-sama mencari jalan terbaik dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada,” ungkap Kapolda.

Menurutnya, pemahaman terhadap kondisi sosial, budaya, adat istiadat, dan kehidupan keagamaan masyarakat merupakan aspek penting dalam menentukan pendekatan kepolisian.

Karena itu, ruang dialog dengan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen lainnya perlu terus dibuka untuk menyerap aspirasi serta mencari solusi bersama atas persoalan yang berkembang.

Kapolda Maluku juga menyoroti peran strategis gereja dan pemuka agama dalam menanamkan nilai moral, meningkatkan kepedulian sosial, serta memelihara keharmonisan di tengah keberagaman. Nilai kasih, toleransi, saling menghormati, dan persaudaraan, katanya, harus terus dijaga sebagai fondasi kehidupan masyarakat Maluku.

“Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab Polri. Keamanan merupakan tanggung jawab bersama. Kepolisian membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk gereja dan para pemuka agama, untuk membangun suasana yang aman, damai, rukun, dan penuh kasih,” tegasnya.

Ia menambahkan, kedamaian tidak cukup diwujudkan melalui penegakan hukum semata, tetapi juga harus dipelihara melalui dialog, keteladanan, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, bekerja, belajar, dan beribadah dalam suasana aman serta tenteram.

Suwondo turut memohon dukungan, nasihat, dan doa dari para pemuka agama serta masyarakat Maluku agar dirinya bersama seluruh jajaran Polda Maluku dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, kebijaksanaan, dan ketulusan dalam memberikan pelayanan, perlindungan, serta pengayoman.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi, S.I.K., menegaskan bahwa Minggu Kasih menjadi ruang komunikasi langsung antara Polri dan masyarakat untuk memperkuat kemitraan dalam menjaga kamtibmas.

“Melalui Minggu Kasih, Polda Maluku ingin memastikan bahwa kehadiran Polri tidak hanya dirasakan dalam pelaksanaan tugas penegakan hukum, tetapi juga melalui komunikasi, kepedulian, dan kemitraan dengan masyarakat,” ujarnya.

Dukungan tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat sangat penting untuk merawat toleransi, memperkuat persaudaraan, serta menjaga Maluku tetap aman dan damai.

Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Kapolda juga mengapresiasi pujian rohani yang dipersembahkan jemaat karena mencerminkan sukacita, kebersamaan, dan kuatnya nilai persaudaraan dalam kehidupan bergereja.

Melalui Minggu Kasih, Polda Maluku berkomitmen terus memperkuat komunikasi dan kemitraan dengan tokoh agama serta seluruh komponen masyarakat.

Terakhir, sinergi antar tokoh agama diharapkan menjadi modal sosial untuk mencegah potensi gangguan kamtibmas, menjaga kerukunan antarumat beragama, dan memperkokoh persaudaraan di Bumi Raja-Raja. (TM-03).

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Ruas yang wajib ditandai *