image (37)

TANIMBAR,-TrendMaluku.com – Anggota DPRD Provinsi Maluku dari Fraksi PDI Perjuangan, Andreas JW Taborat, menggelar reses di Desa Sangliat Krawain dan Desa Lorwembun, Kecamatan Kormomolin, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, pada Kamis, (3/9/2026).

Reses berlangsung dalam suasana dialog terbuka. Warga tidak hanya menyampaikan kebutuhan pembangunan, tetapi juga mengungkap berbagai persoalan yang dihadapi sehari-hari, mulai dari kondisi gedung sekolah, longsor, banjir, drainase, talud, jalan setapak, gereja, pastoran, bantuan pendidikan mahasiswa hingga kebutuhan material pembangunan.

Di Desa Lorwembun, aspirasi masyarakat bahkan telah dikerucutkan pemerintah desa menjadi empat kebutuhan utama, yakni talud penahan banjir, jalan tani, sumur bor dan pembangunan Gedung Pastoran yang ditempatkan sebagai prioritas utama.

Sementara di Desa Sangliat Krawain, persoalan pendidikan, infrastruktur, tempat ibadah, pendidikan mahasiswa hingga lingkungan menjadi bagian dari dialog bersama Taborat.

Menariknya, Taborat meminta masyarakat tidak sungkan mengkritik dan mengoreksi dirinya. Menurutnya, mandat sebagai wakil rakyat berasal dari masyarakat.

“Kalau kalian mau marah, silahkan marah untuk saya. Tidak masalah. Karena kalian yang tugaskan saya ke sana,” tegas Taborat.

Ia menegaskan bahwa rakyat merupakan pemegang mandat tertinggi.

“Yang tuan itu rakyat, bukan kami,” katanya.

Warga Sangliat Krawain Titip Beragam Persoalan.!

Kepala Desa Sangliat Krawain, Basilius Batfian, mengapresiasi kehadiran Taborat yang turun langsung menemui masyarakat.

Dengan jumlah penduduk sekitar 884 jiwa, pemerintah desa berharap aspirasi warga dapat diperjuangkan melalui kewenangan pemerintah provinsi, kabupaten maupun pusat.

“Limpah terima kasih atas niat dan tujuan Bapak Andreas hadir untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat,” ungkap Basilius.

Dalam dialog tersebut, Maria Kelihatan menyampaikan kondisi gedung SD yang dinilai sudah tidak layak dan telah mengganggu proses belajar mengajar selama sekitar dua hingga tiga tahun.

“Gedung SD sudah tidak layak. Mungkin sudah dua sampai tiga tahun anak-anak tidak bisa belajar dengan baik,” keluh Maria.

Ia juga meminta persoalan longsor di depan akses masuk desa segera ditangani. Menurutnya, persoalan tersebut sebelumnya telah disampaikan kepada sejumlah anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Tanimbar, namun belum mendapatkan penyelesaian.

Selain itu, Maria meminta dukungan untuk pembangunan gereja.
Sementara Maria Salome Batlajery menyampaikan terima kasih atas bantuan kepada anak-anak Sangliat Krawain yang mengikuti pertandingan karate di Ambon. Ia juga meminta bantuan semen dan keramik untuk Kelompok Kerahiman Ilahi.

“Terima kasih atas bantuan untuk anak-anak kami. Kami juga berharap kebutuhan semen dan keramik untuk Kelompok Kerahiman Ilahi bisa diperhatikan,” ujarnya.

Banjir, Drainase hingga Jalan Setapak
Persoalan lain disampaikan warga RT 7 yang mengeluhkan banjir berulang setiap musim hujan. Warga berharap pembangunan jalan setapak, drainase dan talud penahan banjir dapat dilakukan.

Selain mengganggu mobilitas warga, persoalan tersebut dinilai membutuhkan penanganan sistem aliran air yang lebih baik.

Konstantina Lartutul menyampaikan kebutuhan bantuan pendidikan bagi mahasiswa asal Sangliat Krawain. Sedangkan Yosep Yanubi meminta perhatian terhadap kondisi rumah pastoran yang dinilai belum memenuhi standar serta jalan setapak yang mengalami kerusakan.

Yustinus Batfian turut mengusulkan bantuan semen untuk mendukung kebutuhan pembangunan masyarakat.
Taborat Tak Ingin Berjanji di Luar Kewenangan

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Taborat menjelaskan bahwa tidak semua persoalan menjadi kewenangan DPRD Provinsi Maluku.
Untuk pembangunan SD, misalnya, kewenangannya berada pada pemerintah kabupaten.

“Yang diurus provinsi itu SMA. SMP, SD dan TK ada di kabupaten,” jelasnya.

Karena itu, Taborat mengaku tidak ingin memberikan janji yang berada di luar kewenangannya.

Aspirasi pembangunan SD akan diteruskan melalui Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Sementara persoalan longsor akan diperjuangkan sesuai kewenangan.

“Kalau soal longsor, ini sudah beberapa kali disampaikan. Kalau belum dibangun, berarti tanggung jawab saya untuk ikut memperjuangkannya,” kata Taborat.

Untuk persoalan drainase dan banjir, ia meminta masyarakat memberikan informasi secara jelas mengenai titik-titik persoalan.

“Kalau soal drainase, kasih saya. Dengan itu kita perjuangkan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar penanganan banjir tidak hanya berfokus pada badan jalan, tetapi melihat sistem aliran air secara menyeluruh, termasuk kemungkinan banjir rob saat pasang laut tinggi.

Gereja dan Bantuan Mahasiswa
Mengenai pembangunan gereja, Taborat mengatakan dukungan akan disesuaikan dengan program serta ruang anggaran yang tersedia.

“Mudah-mudahan kalau ada, misalkan sama dengan tahun lalu, sudah dianggarkan, kita bisa bantu pembangunan gereja,” katanya.

Kebutuhan semen dan keramik untuk Kelompok Kerahiman Ilahi juga akan diupayakan sesuai kemampuan dan dukungan program.

Sementara terkait bantuan mahasiswa, Taborat mengatakan mekanisme penganggarannya akan dilihat kembali.

“Soal bantuan mahasiswa saya mohon maaf. Akan kita jejaki. Kalau masih bisa diambil dari APBD, kita bisa kasih,” ujarnya.

Taborat Ingatkan Warga Jangan Habiskan Hutan.!

Selain pembangunan, Taborat menyampaikan pesan penting terkait lingkungan. Ia meminta masyarakat menjaga hutan dan berhati-hati ketika membuka lahan dengan cara membakar.

“Kalau bisa jangan bakar, lebih bagus. Tapi kalau harus bakar, kumpulkan di tengah, jaga api sampai benar-benar mati baru kita pulang,” pesannya.

Ia juga meminta masyarakat tidak menebang seluruh pohon ketika membuka lahan.

“Kalau ada pohon di hutan atau di tempat kita bikin kebun, kalau bisa tinggalkan lima pohon. Jangan tebang semua. Karena yang kecil-kecil ini adalah harapan,” ujarnya.

Taborat mengibaratkan pohon-pohon kecil sebagai bayi yang harus dipelihara agar tumbuh.

“Pohon kecil itu seperti bayi. Orang tua sudah pergi, tetapi bayi harus kita pelihara supaya tumbuh,” katanya.

Menurutnya, apabila sekitar 232 keluarga di desa tersebut masing-masing mempertahankan lima pohon, maka lebih dari seribu pohon dapat tetap terlindungi.

“Kalau satu keluarga punya satu kebun dan ada lima pohon di dalamnya, berarti sekitar seribu pohon yang kita lindungi. Itu sudah sumbangan besar untuk lingkungan dan untuk dunia,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa menjaga hutan bukan hanya kepentingan masyarakat Tanimbar, tetapi bagian dari tanggung jawab bersama.

“Kita harus pelihara dunia sebagai rumah bersama. Kalau kita bisa melindungi pohon, itu adalah kewajiban kita,” tandasnya.

Lorwembun Kerucutkan Empat Aspirasi.!

Dari Sangliat Krawain, rangkaian reses berlanjut ke Desa Lorwembun.

Kepala Desa Lorwembun, Pius Batlajery, menyampaikan empat kebutuhan utama yang menjadi aspirasi masyarakat. Keempatnya adalah talud penahan banjir, jalan tani, sumur bor dan pembangunan Gedung Pastoran.

Dari empat kebutuhan tersebut, pembangunan Gedung Pastoran ditempatkan sebagai prioritas utama.

“Yang pertama kami berharap talud penahan banjir, jalan tani dan sumur bor ini bisa diperjuangkan. Tetapi untuk prioritas desa, kami berharap pembangunan Gedung Pastoran bisa menjadi perhatian utama,” kata Pius.

Menurutnya, talud penahan banjir sangat dibutuhkan karena masyarakat beberapa kali menghadapi banjir akibat persoalan alur sungai.

“Talud penahan banjir ini sangat penting bagi kami. Kami berharap aspirasi ini bisa diperjuangkan karena menyangkut keamanan masyarakat,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Taborat menyatakan akan memperjuangkan kebutuhan talud melalui Pemerintah Provinsi Maluku.

“Soal talud sungai, saya akan perjuangkan ke Pemerintah Provinsi,” tegasnya.

Jalan Tani dan Sumur Bor
Kebutuhan lainnya adalah pembangunan jalan tani. Pius menjelaskan sebagian besar masyarakat Lorwembun menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, namun akses menuju kebun masih menjadi kendala.

“Sebagian besar masyarakat kami adalah petani. Jalan tani sangat kami butuhkan karena selama ini hasil pertanian masih harus dibawa dengan cara dipikul,” jelasnya.

Taborat meminta masyarakat membentuk kelompok tani agar lebih mudah diusulkan mendapatkan dukungan program.

“Bikin kelompok tani supaya kita usulkan agar bisa dapat. Kalau perlu, langsung ke rumah saja,” katanya.

Ia memastikan aspirasi pembangunan jalan tani akan dibawa ke tingkat provinsi.

“Jalan tani ini saya akan bawa ke provinsi untuk menjawab aspirasi warga karena ini sangat penting,” tegas Taborat.

Sementara untuk kebutuhan air bersih, Pius menjelaskan bahwa sumber air sebenarnya tersedia, namun sarana untuk menarik dan mengalirkannya ke permukiman masih menjadi kendala.

“Air kami sebenarnya ada. Persoalannya bagaimana air itu bisa ditarik masuk ke kampung. Karena itu kami membutuhkan sumur bor dan sarana pendukungnya,” katanya.

Taborat mengatakan persoalan sarana air bersih tetap menjadi perhatian.

Ia juga menyebut pemerintah telah mengusulkan pembangunan SPAM air bersih untuk kawasan Alusi Raya, namun program tersebut belum berjalan akibat efisiensi anggaran.

“Kita sudah usul untuk membangun SPAM air bersih, tetapi sampai saat ini belum bisa jalan karena ada efisiensi anggaran,” ujarnya.

“Semoga tahun depan bisa terjawab dan ini menjadi prioritas saya,” tegasnya.

Pastoran Jadi Prioritas Utama
Dari seluruh aspirasi yang disampaikan, pembangunan Gedung Pastoran menjadi prioritas utama Pemerintah Desa Lorwembun.

Pembangunan rumah pastoran selama ini dikerjakan melalui gotong royong masyarakat. Tujuh RT masing-masing memberikan kontribusi Rp10 juta sehingga terkumpul Rp70 juta. Taborat sebelumnya juga telah memberikan bantuan Rp50 juta untuk pembangunan tahap pertama.

“Kami berterima kasih atas bantuan Rp50 juta untuk tahap pertama. Tetapi pembangunan masih membutuhkan dukungan,” kata Pius.

Ia berharap pembangunan tersebut dapat dilanjutkan hingga selesai.
Taborat memastikan dukungan terhadap pembangunan pastoran dan gereja akan terus dilakukan melalui semangat gotong royong.

“Soal pastoran kita gotong royong. Gereja juga tetap kita gotong royong. Jangan takut, pasti uluran tangan saya sampai,” tegasnya.

Warga Ingat Kembali Aspirasi Jalan Tahun 2013

Kepercayaan Pemerintah Desa Lorwembun kepada Taborat juga tidak terlepas dari pengalaman sebelumnya.

Pius mengingat kembali reses Taborat di Lorwembun pada 2013. Saat itu warga menyampaikan kebutuhan akses jalan menuju Desa Laken.

Aspirasi tersebut kemudian ditindaklanjuti hingga jalan Lorwembun diaspal pada 2015.

“Waktu beliau reses di sini tahun 2013, kami pernah menyampaikan aspirasi jalan. Kemudian pada 2015 jalan Lorwembun bisa diaspal,” ungkap Pius.

Karena itu, ia berharap aspirasi yang disampaikan dalam reses kali ini juga dapat ditindaklanjuti.

Taborat: Reses Bukan Sekadar Datang dan Pulang.!

Taborat menegaskan dirinya tidak ingin hubungan dengan masyarakat hanya terbangun menjelang pemilu.

Saya malu kalau datang kemudian kosong-kosong, lalu pulang dan lima tahun depan datang lagi untuk kampanye. Karena itu saya harus datang supaya minimal ada program yang masuk ke depan,” katanya.

Menurutnya, setelah aspirasi disampaikan dan kewenangan dijelaskan, pekerjaan sesungguhnya justru baru dimulai.

Aspirasi masyarakat kini menunggu proses lebih lanjut, mulai dari perencanaan, penganggaran hingga realisasi program.

Di Sangliat Krawain, warga menunggu jawaban atas persoalan gedung SD, longsor, banjir, drainase, gereja, pastoran dan bantuan pendidikan mahasiswa.

Sementara di Lorwembun, empat kebutuhan utama telah ditetapkan, dengan pembangunan Gedung Pastoran sebagai prioritas, disusul talud penahan banjir, jalan tani dan sumur bor.

Namun, bagi Taborat, pembangunan kampung harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan.

“Silahkan apa yang mau disampaikan, sampaikan. Mau kritik, mau marah, tidak masalah. Mau memberikan koreksi, tidak masalah,” pungkasnya (TM-02).

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Ruas yang wajib ditandai *