image (59)

AMBON,- TrendMaluku.com – Kontroversi pascapelaksanaan Lomba Gerak Jalan Indah (LGJI) Amboina 2026 mendapat perhatian publik. Sejumlah kritik terhadap panitia maupun hasil perlombaan bermunculan dan menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat.

Namun, polemik tersebut dinilai perlu disikapi secara jernih dan proporsional dengan tetap menempatkan fakta sebagai dasar utama.

Pandangan tersebut disampaikan Jancy Latuperissa, Ketua PHBG Jemaat GPM Silo. Menurutnya, kritik terhadap penyelenggaraan maupun hasil perlombaan merupakan hak peserta dan masyarakat. Kendati demikian, kritik idealnya dibangun berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata dugaan atau persepsi.

Terlebih, kata Jancy, pemberitaan yang menyebut adanya keuntungan sepihak hingga mengarah pada dugaan bahwa juara telah ditentukan panitia merupakan tudingan serius.

“Karena itu, tudingan tersebut semestinya disertai bukti yang jelas. Publik berhak mengetahui siapa yang diduga mengatur, bagaimana proses pengaturan dilakukan, kapan keputusan tersebut dibuat, serta bentuk intervensi yang disebut terjadi dalam proses perlombaan,” ujarnya.

Ia mengingatkan, tanpa bukti yang kuat, masyarakat perlu berhati-hati agar sebuah persepsi tidak berkembang dan kemudian dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Dalam sebuah perlombaan, lanjutnya, hasil tidak semestinya hanya dilihat dari siapa yang keluar sebagai juara. Ada sejumlah tahapan yang menjadi dasar penentuan pemenang, mulai dari mekanisme penilaian, komponen yang dinilai, dewan juri hingga keputusan resmi yang ditetapkan penyelenggara.

Karena itu, ketika hasil LGJI Amboina dipersoalkan, pertanyaan yang lebih tepat bukan semata-mata mengapa sebuah tim menjadi juara, tetapi apakah nilai dan keputusan dewan juri telah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sejak awal.

“Jika seluruh proses tersebut berjalan sesuai aturan, maka hasil perlombaan patut dihormati meskipun tidak semua peserta maupun masyarakat menyukainya,” katanya.

Sebaliknya, apabila ditemukan ketidaksesuaian, persoalan tersebut harus dibuka dan diperiksa secara objektif. Dengan demikian, kritik dapat menjadi instrumen evaluasi, bukan sekadar tudingan.

Jancy menilai hal tersebut penting karena LGJI merupakan perlombaan yang mengandung unsur kreativitas. Perbedaan penilaian antara penonton dan dewan juri sangat mungkin terjadi.

Penonton bisa saja menganggap sebuah barisan lebih menarik, lebih ramai, lebih kreatif atau lebih layak menjadi juara. Namun, masyarakat belum tentu mengetahui seluruh komponen penilaian yang digunakan oleh dewan juri.

“Perbedaan pilihan antara publik dan juri dengan sendirinya belum dapat dijadikan bukti adanya permainan dalam perlombaan,” tegasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut justru menunjukkan pentingnya rubrik penilaian dan mekanisme penjurian yang jelas, transparan serta dapat dipahami oleh peserta maupun masyarakat.

Jika hasil perlombaan hendak dipersoalkan, data penilaian semestinya menjadi dasar pembahasan. Bukan hanya berdasarkan pernyataan bahwa barisan tertentu terlihat lebih baik dan seharusnya menjadi juara.

Di sisi lain, kritik publik juga tidak semestinya dijawab secara defensif. Panitia memiliki tanggung jawab memberikan penjelasan ketika muncul pertanyaan mengenai proses penyelenggaraan maupun hasil perlombaan.

Apabila seluruh tahapan telah berjalan sesuai aturan, keterbukaan mengenai mekanisme penilaian justru dapat menjadi langkah positif untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap penyelenggara.

“Semakin besar sebuah kegiatan dan semakin banyak peserta yang terlibat, semakin besar pula kebutuhan terhadap transparansi,” ujarnya.

Ia menambahkan, LGJI Amboina pada dasarnya merupakan ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menunjukkan kreativitas, kedisiplinan, kebersamaan serta kecintaan terhadap Kota Ambon.

Karena itu, menurutnya, akan sangat disayangkan apabila setelah perlombaan berakhir, energi masyarakat justru tersita untuk saling mencurigai dan menyerang satu sama lain.

Peserta yang merasa dirugikan memiliki hak mempertanyakan hasil. Panitia memiliki kewajiban memberikan penjelasan. Media juga memiliki hak melakukan kritik dan pengawasan.

Namun, seluruh pihak memiliki tanggung jawab yang sama untuk menempatkan fakta di atas emosi.

Jancy menegaskan, polemik LGJI Amboina tidak harus diselesaikan dengan saling membalas pemberitaan. Jika benar terdapat permainan, maka bukti harus ditunjukkan.

Apabila terdapat intervensi terhadap dewan juri, perlu dijelaskan siapa yang melakukan, bagaimana intervensi tersebut terjadi, dan apa dampaknya terhadap hasil perlombaan.

Begitu pula apabila terdapat dugaan perubahan nilai, data penilaian dapat menjadi dasar untuk menguji dugaan tersebut. Jika terdapat pelanggaran aturan, ketentuan yang dilanggar juga harus ditunjukkan secara jelas.

Sebaliknya, apabila yang tersedia hanya dugaan karena hasil perlombaan tidak sesuai dengan harapan, publik perlu memberikan ruang kepada panitia dan dewan juri untuk menjelaskan dasar keputusan mereka.

Polemik yang muncul seharusnya dapat menjadi momentum untuk memperbaiki pelaksanaan LGJI Amboina pada masa mendatang.

Panitia dapat memperjelas indikator penilaian sejak awal, memperkuat independensi dewan juri, menyediakan mekanisme keberatan bagi peserta, serta mendokumentasikan hasil penilaian secara lebih transparan.

Dengan demikian, siapa pun yang nantinya menjadi juara tidak mudah dicurigai karena proses penentuannya dapat dipertanggungjawabkan.

“Sebab, ukuran keberhasilan sebuah perlombaan bukan hanya terletak pada siapa yang membawa pulang piala, tetapi juga pada seberapa besar kepercayaan peserta dan masyarakat terhadap proses yang melahirkan seorang pemenang,” tuturnya.

Ia menegaskan, LGJI boleh dikritik, panitia boleh dievaluasi, dan dewan juri juga dapat dimintai pertanggungjawaban.

Namun, satu hal harus dijaga bersama, yakni tidak mengubah dugaan menjadi fakta dan tidak menjadikan perbedaan hasil sebagai tuduhan kecurangan tanpa bukti.

“Pada akhirnya, yang harus menang bukan hanya satu barisan. Yang harus menang adalah sportivitas, kejujuran dan rasa persaudaraan orang basudara,” pungkas Jancy. (TM-02)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Ruas yang wajib ditandai *