
AMBON,- TrendMaluku.com – Yayasan SAHARI menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memperluas penyebaran Sistem Informasi Cuaca dan Iklim (SICI) hingga ke desa-desa di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Maluku. Rabu, (2/9/2026).
Upaya tersebut menjadi bagian dari program Penguatan Kapasitas dan Ketangguhan Masyarakat Pesisir serta Pulau Kecil (Desrana Kepulauan), yang didukung Caritas Germany dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Untuk memastikan informasi cuaca dan iklim dapat diterima langsung oleh nelayan dan petani, Yayasan SAHARI membentuk kelompok kerja (Pokja) di tingkat desa. Sebagai langkah awal, pelatihan intensif digelar di Banda Naira, Kabupaten Maluku Tengah, pada 25-26 Agustus 2026.
Pelatihan tersebut diikuti tujuh delegasi dari masing-masing desa pendampingan, yakni Desa Pulau Ay, Selamon, dan Lautang.
Peserta tidak hanya berasal dari unsur pemerintahan desa, Tim Pengurangan Risiko Bencana (PRB), dan anggota Pokja, tetapi juga melibatkan tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan mengenai astronomi tradisional lokal Maluku atau Nanaku.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, pelatihan menghadirkan staf Stasiun Meteorologi Kelas II Ambon, Merson Panggua, serta staf Stasiun Meteorologi Kelas III Banda Naira, Fadhil.
Direktur Eksekutif Yayasan SAHARI, Petrus Wairissal, mengatakan kolaborasi antara data ilmiah BMKG dengan pengetahuan kearifan lokal diharapkan menjadi fondasi dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat pesisir dan pulau kecil menghadapi perubahan iklim.
Menurut Petrus, bekal pengetahuan tersebut penting agar nelayan dan petani di tiga desa pendampingan Yayasan SAHARI di Kepulauan Banda mampu melakukan mitigasi dan adaptasi secara mandiri.
“Mengapa Yayasan SAHARI memilih Kepulauan Banda sebagai wilayah pendampingan karena wilayah ini salah satu wilayah yang sangat terdampak perubahan iklim,” kata Petrus yang akrab disapa Piet.
Melalui program Desrana Kepulauan, Yayasan SAHARI kemudian menggandeng BMKG untuk mendistribusikan SICI hingga ke tingkat desa. Untuk mendukung proses tersebut, masing-masing desa telah membentuk Pokja yang beranggotakan tiga orang.
Selain itu, telah disusun Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagai pedoman teknis distribusi SICI kepada masyarakat.
Informasi tersebut nantinya disampaikan melalui berbagai saluran komunikasi yang mudah dijangkau masyarakat, seperti pengeras suara masjid, grup WhatsApp, maupun marinyo.
“Dalam kegiatan ini diperkuat lagi mengenai pengisian matriks SOP, pengembangan SICI dan pola distribusi data SICI supaya informasinya benar-benar tersampaikan ke nelayan dan petani,” jelas Piet.
Para peserta juga melakukan simulasi distribusi data SICI sebagai bagian dari pelatihan.
Jaga Keberlanjutan Pasokan Data
Untuk memastikan pasokan data SICI dapat berlangsung secara berkelanjutan, Yayasan SAHARI memfasilitasi penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) antara tiga kepala desa dengan pihak BMKG pada akhir kegiatan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Ambon, Kamari, SP., M.Kom, serta Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Banda Naira, Carisz Kainama, S.Si., M.Si.,
Piet mengatakan BMKG berperan menyediakan data SICI, sedangkan Yayasan SAHARI menjadi fasilitator yang menghubungkan BMKG dengan pemerintah desa.
“BMKG menyediakan data SICI, peran Yayasan SAHARI sebagai fasilitator untuk menghubungkan pemerintah desa dan BMKG. Untuk itu, saya berharap tim pokja ini tetap bekerja untuk membantu menyebarluaskan informasi kepada masyarakat desa,” harapnya.
Kegiatan serupa selanjutnya akan dilaksanakan di Desa Tonu Jaya, Soleh, Pulau Kelang, Kabupaten Seram Bagian Barat, serta Desa Liang, Waai, dan Tial di Pulau Ambon, Maluku Tengah.
Program penyebaran SICI tersebut merupakan kelanjutan dari pendampingan yang sebelumnya dilakukan Yayasan SAHARI melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Plus dan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Pertanian.
Melalui dua sekolah nonformal tersebut, nelayan dan petani dibekali kemampuan membaca data serta peta cuaca dan iklim di wilayah masing-masing.
“Jadi dalam kegiatan itu, kita melibatkan pihak Stasiun Meteorologi Ambon, Stasiun Klimatologi Maluku dan terakhir Stasiun Meteorologi Pattimura dan Banda,” jelas Piet.
BMKG Siap Dukung Masyarakat Pulau Kecil.!
Dukungan BMKG dinilai menjadi bagian penting dalam memastikan informasi cuaca dan iklim dapat diteruskan hingga ke masyarakat.
Kepala Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, Kamari, mengatakan BMKG siap mendukung masyarakat di wilayah pulau kecil untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
“Kami saling berkoordinasi dengan badan meteorologi yang ada di Maluku. Kami siap mendukung program pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Sementara di Banda Naira, salah satu bentuk dukungan dilakukan melalui penyebaran informasi menggunakan group WhatsApp.
Kepala Stasiun Meteorologi Banda Naira, Carisz Kainama, mengatakan kanal komunikasi tersebut selama ini telah mencakup sejumlah pemangku kepentingan di Kepulauan Banda.
Ia pun mendorong para kepala desa untuk bergabung sehingga informasi cuaca dan iklim dapat diteruskan kepada masyarakat di tingkat desa.
“Untuk itu, kepada kepala-kepala desa yang hadir setelah ini boleh memasukkan nomor HP-nya,” katanya.
Selain memantau kondisi cuaca dan iklim, BMKG Banda Naira juga melakukan pemantauan terhadap ancaman gempa bumi yang kerap terjadi di wilayah Kepulauan Banda.
Namun, proses pemantauan masih menghadapi keterbatasan karena stasiun BMKG setempat saat ini hanya memiliki satu alat pendeteksi gempa.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga mendapatkan materi mengenai berbagai produk informasi cuaca, mulai dari analisis kondisi cuaca, prakiraan cuaca harian, informasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), anomali suhu muka laut, hingga pengenalan fenomena El Nino.
Kegiatan itu turut dihadiri Kepala BMKG Stasiun Pattimura Ambon bersama staf, Kepala BMKG Stasiun Banda Naira bersama tiga staf, Camat Banda, Direktur Yayasan SAHARI, Koordinator Program Desrana, Koordinator Lapangan Program Desrana, serta perwakilan masing-masing desa.
Setiap desa mengirimkan unsur kepala pemerintahan administratif, dua perwakilan Tim PRB, tiga anggota Pokja, serta tokoh masyarakat.
Melalui kolaborasi tersebut, Yayasan SAHARI dan BMKG berharap informasi cuaca dan iklim tidak hanya berhenti pada tingkat institusi, tetapi benar-benar menjadi bahan pertimbangan masyarakat dalam mengambil keputusan, terutama bagi nelayan dan petani yang aktivitasnya sangat bergantung pada kondisi alam. (TM-02).








