
DOBO,- TrendMaluku.com – Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memberikan perhatian terhadap kebutuhan transportasi masyarakat di wilayah kepulauan, termasuk Kabupaten Kepulauan Aru, terutama dalam menghadapi periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Kepala UPP Kelas III Dobo, Ruswan Wusurwut, mengatakan konektivitas transportasi laut menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat Kepulauan Aru, mengingat kondisi geografis daerah yang merupakan wilayah kepulauan.
Menurutnya, mobilitas masyarakat cenderung meningkat menjelang momentum Nataru. Karena itu, persiapan dan pengaturan pergerakan kapal perlu dilakukan lebih awal guna mengantisipasi lonjakan penumpang.
“Biasanya pergerakan penumpang sudah meningkat. Apalagi saat Natal dan Tahun Baru, bukan hanya masyarakat yang pulang, tetapi juga ada yang datang karena masa libur sekolah dan kegiatan lainnya,” ujar Ruswan diruang kerjanya. Kamis, (17/9/2026).
Ruswan mengatakan, dalam kondisi tertentu jumlah penumpang di Dobo bisa dapat menembus angka 1.000-an orang atau juga lebih. Karena itu, koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk operator kapal dan instansi terkait, menjadi penting untuk memastikan pelayanan transportasi tetap berjalan dengan baik.
Ia juga menyebut adanya kebutuhan penambahan armada kapal untuk mendukung konektivitas masyarakat. Hal ini dinilai penting karena transportasi udara masih memiliki keterbatasan, termasuk dari sisi biaya tiket yang relatif tinggi.
“Masyarakat di daerah kepulauan memiliki kecenderungan memilih kapal laut karena lebih terjangkau. Karena itu, penambahan armada sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.
Ruswan menambahkan, perhatian pemerintah pusat terhadap konektivitas wilayah kepulauan diharapkan dapat terus diperkuat, sehingga aktivitas masyarakat dan distribusi barang dapat berlangsung lebih lancar.
Menjelang Nataru 2026, UPP Kelas III Dobo juga akan melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap peningkatan aktivitas pelayaran. Pengaturan pergerakan kapal dan pelayanan penumpang akan menjadi perhatian, termasuk apabila terjadi perubahan kondisi cuaca maupun situasi di lapangan.
“Kita tidak bisa menunggu sampai terjadi lonjakan baru melakukan antisipasi. Dari jauh-jauh hari pergerakan kapal harus sudah kita persiapkan,” jelas Ruswan.
Ia turut mengajak media dan masyarakat untuk berperan memberikan informasi apabila menemukan persoalan di lapangan, sehingga dapat segera ditindaklanjuti.
“Kalau ada masukan dari masyarakat maupun teman-teman media, silakan disampaikan. Kita siap turun ke lapangan karena kita tidak bisa bekerja sendiri,” ujarnya.
Ruswan berharap seluruh proses pelayanan transportasi selama Nataru 2026 dapat berjalan aman, tertib dan lancar, sehingga masyarakat yang melakukan perjalanan dapat memperoleh pelayanan yang baik. (TM-01).







