
DOBO,- TrendMaluku.com – Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Dobo mulai mematangkan berbagai langkah strategis untuk mengantisipasi lonjakan penumpang pada arus mudik Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027.
Persiapan dilakukan sejak dini melalui koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru, serta jajaran Kementerian Perhubungan guna memastikan kelancaran pelayanan penumpang selama periode Nataru.
Kepala Kantor UPP Kelas III Dobo, Ruswan Wusurwut, mengatakan seluruh persiapan terus dimatangkan, baik dari sisi fasilitas pelabuhan, kesiapan operasional maupun koordinasi lintas sektor.
“Tujuannya agar para penumpang, baik yang hendak berangkat maupun yang tiba di Dobo, dapat terlayani dengan baik dan lancar,” ujar Ruswan. Minggu, (27/9/2026).
Dari sisi infrastruktur, kesiapan Pelabuhan Yos Sudarso Dobo tahun ini dinilai semakin optimal. Pembangunan pelabuhan tersebut telah rampung seluruhnya, dengan panjang dermaga mencapai 365 meter.
Kondisi ini memungkinkan dua kapal Pelni bersandar secara bersamaan, sehingga diharapkan dapat mendukung kelancaran pelayanan kapal dan mengantisipasi peningkatan aktivitas penumpang selama musim liburan.
Sementara itu, pembenahan fasilitas di darat kini difokuskan pada area parkir dan titik kumpul penumpang. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah penumpukan kendaraan maupun calon penumpang yang berpotensi menghambat proses embarkasi dan debarkasi.
“Kami sedang mengupayakan agar dua bangunan fasilitas ini bisa segera dibuka. Sementara untuk terminal penumpang dan tempat boarding bagi calon penumpang, saat ini kondisinya sudah siap,” jelasnya.
Ruswan menjelaskan, kesiapan fasilitas di kawasan causeway atau trestle menuju kapal juga memberikan keuntungan dari sisi efisiensi pelayanan.
Dengan pengaturan yang tepat, pihaknya optimistis kepadatan penumpang yang mencapai lebih dari 1.000 orang dapat diurai menuju kapal dalam waktu sekitar 35 menit.
Untuk mendukung kelancaran transportasi laut, Pelabuhan Dobo diperkirakan akan dilayani sekitar 12 armada kapal. Jumlah tersebut terdiri dari 11 kapal milik PT Pelni dan perusahaan swasta, serta satu kapal feri penyeberangan.
Rencana kesiapan angkutan Nataru tersebut juga telah dikoordinasikan langsung dengan jajaran Eselon I Kementerian Perhubungan Republik Indonesia di Jakarta.
Selain itu, UPP Dobo terus membangun komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru, khususnya Dinas Perhubungan, Polres Kepulauan Aru, insan maritim, PT Pelni, serta sejumlah agen pelayaran yang menjadi mitra kerja di Pelabuhan Dobo.
“Kami juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru, khususnya Dinas Perhubungan, Polres Kepulauan Aru, insan maritim, PT Pelni, serta sejumlah agen pelayaran kompeten yang menjadi mitra kerja kami di Pelabuhan Dobo,” tambahnya.
Di tengah berbagai persiapan tersebut, Ruswan berharap Pemerintah Pusat melalui PT Pelni dapat memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan transportasi laut di wilayah kepulauan, khususnya Pulau Aru.
Menurutnya, penambahan armada sangat diperlukan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang pada periode puncak arus mudik dan arus balik, mengingat transportasi laut masih menjadi salah satu sarana utama mobilitas masyarakat di wilayah tersebut.
Antisipasi juga diarahkan pada peningkatan mobilitas penumpang antar provinsi, terutama dari sejumlah wilayah Papua, seperti Merauke, Agats, hingga Pomako (Timika), yang memiliki keterkaitan dengan jalur pelayaran di kawasan Maluku.
Ruswan mengingatkan pengalaman tahun sebelumnya ketika KM Tatamailau, menjadi sorotan publik akibat kondisi kapal yang dipadati penumpang. Pelabuhan Dobo dan Tual merupakan titik singgah penting dalam jalur pelayaran tersebut.
Belajar dari pengalaman itu, UPP Dobo memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan berbagai pihak di sepanjang rute pelayaran Dobo, Tual, Pomako, Agats, hingga Merauke.
“Kami terus memperkuat komunikasi antarwilayah rute Dobo, Tual, Pomako, Agats, hingga Merauke guna meminimalisir dan menekan arus mudik Nataru,” pungkasnya. (TM-02).







